Wednesday, January 23, 2013

LEARNING CYCLE MODEL

Learning cycle merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan saat mengajar dikelas. Dibawah ini diterangkan lebih lanjut mengenai model pembelajaran ini, bersumber dari tugas mata kuliah Daslit.
Learning Cycle  merupakan  salah  satu  model  pembelajaran  yang  berlandaskan  pada pandangan  konstruktivisme.  Pandangan  ini  berasumsi  bahwa  mengajar  bukan sebagai  proses  di  mana  gagasan-gagasan  guru  diteruskan  pada  para  peserta didik, melainkan sebagai proses untuk mengubah dan membangun gagasan-gagasan.

Menurut Renner & Abraham (1988:  39) model Learning Cycle dikembangkan pertama kali oleh Karplus, yang tergabung dalam Science Curriculum Improvement Study (SCIS),  yang  membagi  model  Learning Cycle  terdiri  dari  tiga  fase,  yaitu  exploration, conceptual invention, dan expansion. Terdapat istilah-istilah yang berbeda pada penamaan fase-fase dalam model Learning Cycle ini. Dahar (1988: 198) menggunakan istilah eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep.
a)      Fase Eksplorasi
Pada fase ini guru menyajikan fakta atau fenomena yang berkaitan dengan konsep yang akan diajarkan. Peserta didik menyelidiki fenomena tersebut dengan bimbingan minimal sehingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atau kekompleksan yang tidak dapat mereka pecahkan dengan pola penalaran yang biasa mereka lakukan. Fase ini menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk menggunakan pengetahuan awalnya dalam mengobservasi, memahami, serta mengkomunikasikannya pada orang lain berdasarkan konsep-konsep yang telah mereka ketahui. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melibatkan peserta didik secara aktif dalam suatu aktivitas yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan motivasi belajar. Di samping itu kegiatan pada fase ini memungkinkan peserta didik menyadari konsep yang telah dimilikinya.
b)      Fase Pengenalan Konsep
Pada fase ini peserta didik mengemukakan gagasan-gagasan kemudian didiskusikan dalam konteks apa yang telah diamati selama fase eksplorasi. Guru memberikan penguatan terhadap jawaban atau gagasan yang diungkapkan peserta didik. Selain itu, guru mengenalkan istilah-istilah, penjelasan, pengkontrasan mengusulkan alternatif pemecahan, atau memperbaiki miskonsepsi peserta didik. Peserta didik dengan bimbingan guru mengorganisasikan datanya untuk menemukan keteraturan atau hubungan antar konsep.
c)      Fase Aplikasi Konsep
Fase ini memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diberikan pada fase pertama dan kedua untuk menyelesaikan persoalan dalam konteks yang berbeda. Peserta didik  menerapkan konsep yang telah mereka dapat pada situasi baru, baik untuk memahami sifat-sifat konsep lebih jauh (materi pengayaan) atau dalam konteks kehidupan sehari-hari. Guru membantu menginterpretasi dan menggeneralisasi hasil pengalaman peserta didik. Peserta didik memperoleh penguatan dan pengembangan struktur mental yang baru.
Menurut Dahar (1988: 173) fase ini memberikan kontribusi yang cukup penting dalam proses belajar, sebab biasanya informasi itu dinilai kurang berharga jika tidak dapat diterapkan di luar konteks di mana informasi itu dipelajari. Jadi generalisasi atau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Selain itu fase ini dapat juga dikatakan sebagai umpan balik. Menurut Lardizabal, dkk.  (1991: 50) fase ini merupakan evaluasi apakah pembelajaran dapat diterima atau tidak. Proses belajar belum terjadi, jika peserta didik tidak bisa menerapkan atau menggunakan apa yang telah ia pelajari. Jika ia belajar suatu aturan, maka ia akan dapat menerapkan aturan tersebut dalam penyelesaian masalah lain. Jika ia belajar suatu fakta, maka ia akan dapat mengakui fakta tersebut dalam situasi yang berbeda.
Learning Cycle melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi pebelajar untuk secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Implementasi Learning Cycle dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:
1)      Peserta didik belajar secara aktif. Peserta didik mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman peserta didik.
2)      Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki peserta didik. Informasi baru yang dimiliki peserta didik berasal dari interpretasi individu.
3)      Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah. (Hudojo, 2001)
Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan peserta didik secara aktif dan langsung.
Adapun fase-fase dalam model pembelajaran Learning Cycle adalah sebagai berikut.
1)     Engagement (keterlibatan)
Menyiapkan (mengkondisikan) diri pebelajar, mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi, membangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar.
Ø  demonstrasi oleh guru atau peserta didik
Ø  tanya jawab dalam rangka mengeksplorasi pengetahuan awal, pengalaman, dan ide-ide peserta didik
Ø  peserta didik diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan
2)     Eksploration (eksplorasi)
Peserta didik bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide
Ø  demonstrasi
Ø  mengerjakan LKPD (Lembar Kegiatan Peserta didik)
3)     Explanation (penjelasan)
Peserta didik menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, guru meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka dan mengarahkan kegiatan diskusi, peserta didik menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari
Ø  mengkaji literatur
Ø  diskusi kelas
4)     Elaboration (elaborasi)
Guru memberi peserta didik informasi baru yang lebih luas apa yang mereka telah pelajari di bagian-bagian awal dari siklus belajar. Pada tahap ini guru juga menciptakan masalah agar peserta didik mampu memecahkan masalah dengan menerapkan apa yang telah mereka pelajari. Peserta didik menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru.
Ø  demontrasi lanjutan
Ø  penyelesaian masalah (problem solving)
5)     Evaluation (evaluasi)
Guru dapat mengadakan evaluasi dengan tes pada akhir setiap tahap. Evaluasi dilakukan terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya, evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi pebelajar dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong pebelajar melakukan investigasi lebih lanjut.
Ø  refleksi pelaksanaan pembelajaran
Ø  tes tulis
Ø  penyelesaian masalah (problem solving)
Melalui penerapan model pembelajaran Learning Cycle, ada beberapa keuntungan yang diperoleh peserta didik.
1)     menjadi berpusat pada peserta didik (student-centered)
2) meningkatkan motivasi belajar karena peserta didik dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran
3)     membentuk peserta didik yang aktif, kritis, dan kreatif
4)     pembelajaran menjadi lebih bermakna



Selamat belajar. Semoga bermanfaat. ~(‾▿‾~)(~‾▿‾~)(~‾▿‾)~ 

2 comments: